Halo, CIMSA! Kali ini, CIMSAlert hadir bersama salah satu alumni keren CIMSA UNAIR, yaitu dr. Pranindya Rinastiti, Ph.D. Nah, kali ini, CIMSAlert akan membahas tentang pengalaman Kak Indy sebagai awardee beasiswa LPDP yang pernah menempuh pendidikan Doctoral Course di Department of Internal Medicine, Division of Cardiovascular Science, Kobe University, Jepang.
Sejak SMA, Kak Indy memang sudah tertarik untuk bersekolah di luar negeri, tetapi berulang kali ikut seleksi pertukaran pelajar Kak Indy selalu gagal di seleksi terakhirnya. Tapi, Kak Indy memang nggak mudah menyerah. Setelah lulus menjadi dokter, Kak Indy juga sempat merasa bingung, selanjutnya mau jadi apa? “Mau PPDS nggak punya uang dan bukan siapa-siapa. Saya sempet ngincer jadi dokter umum di Jogja, tapi saingannya banyak, karena di Jogja banyak universitas lain yang punya FK juga. Mau jadi dosen, biasanya diminta yang sudah S2, S3, atau spesialis” kata Kak Indy. Tetapi, pada akhirnya Kak Indy memilih untuk mengambil bidang yang masih belum banyak saingannya, yaitu menjadi independent basic scientist, dan mengambil Pendidikan di luar negeri sesuai cita-cita.
Kak Indy memilih belajar basic science di luar negeri karena fasilitas yang lebih memadai dan terutama iklim penelitian yang baik, di mana meskipun iklimnya sangat kompetitif tetapi tetap konstruktif. Selain itu, basic science di luar negeri juga banyak digeluti tidak hanya oleh para basic scientist tapi juga para klinisi. Di tempat Kak Indy menempuh pendidikan, prinsip from bedside to bench menjadi pegangan, dimana permasalahan yang ada di dunia klinis akan berusaha dipecahkan melalui eksperimen di laboratorium, misalnya, mencari target terapi untuk penyakit tertentu, di bidang kardiologi, yang belum ada terapinya.
Lalu, kenapa yaa Kak Indy memilih studi di negara Jepang? “Saya memang punya ketertarikan personal sama Jepang, lokasinya relatif dekat dengan Indonesia, dan kultur ketimurannya juga masih mirip Indonesia.” Selain itu, Kak Indy juga mengungkapkan bahwa basic science research di Jepang merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan ada banyak kerjasama antara Indonesia dan Jepang.
Nah, apa aja sih yang dipersiapkan oleh Kak Indy sebelum berangkat studi ke Jepang? “Langkah pertama yang jelas adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya, baik dari sumber resmi maupun tidak resmi. Dari web universitas, teman-teman, bahkan saya sempet neror dosen waktu itu, buat cari peluang ke luar negeri.” ujar Kak Indy. Pada akhirnya, Kak Indy bisa diterima di program ini berkat informasi dari salah satu koleganya yang merupakan mantan murid dari supervisor Kak Indy di Kobe University.
Selanjutnya, Kak Indy lanjut mencari-cari program beasiswa. Kak Indy sempat mencoba beasiswa MEXT (beasiswa Jepang), tetapi gagal. “Beruntung pada akhirnya saya tersaring di LPDP. Dari kegagalan-kegagalan sebelumnya, akhirnya saya jadi punya pengetahuan yang akhirnya membuat saya diterima LPDP.” (Temen-temen yang mau baca cerita lengkap beasiswa Kak Indy, bisa banget nih langsung ke blog pribadi Kak Indy, rumahindik.blogspot.com).
Kemudian, karena Kak Indy mengambil basic science, Kak Indy juga harus belajar lagi basic science, belajar dari buku, jurnal, mempelajari kembali journal appraisal, dan lain-lain yang berhubungan dengan keilmiahan. Selain itu, yang nggak kalah pentingnya adalah networking. “Kalau ada kesempatan, ikutlah magang, atau jadi asisten penelitian, atau bergabung di berbagai research group. Sisanya tinggal persiapan bahasa (TOEFL atau IELTS).” ujar Kak Indy.
Untuk kultur pendidikan di Jepang, menurut Kak Indy semua orang di Jepang sangat on time. pekerja keras, open minded, dan pay attention to detail. Untuk pendidikan kedokteran sendiri, ada beberapa perbedaan antara Jepang dan Indonesia, seperti koas di Jepang yang hanya mengobservasi dan tidak memegang pasien. Setelah lulus dokter, para dokter pun langsung masuk internship dan langsung melanjutkan spesialisasi, jadi hamper tidak ada dokter umum, apalagi di kota-kota besar. DI Jepang, dokter (MD) lebih jarang mengambil program master, karena MD di sana dianggap setara dengan master, biasanya para MD ini langsung mengambil PhD.
Setelah lulus PhD, Kak Indy menyadari bahwa peluang setelah lulus PhD itu sangat luas, nggak melulu jadi dosen. Memiliki gelar PhD bisa menjadi poin tambah bila mendaftar PPDS, bisa juga untuk melamar menjadi dosen, bisa juga bekerja di research center (seperti Lembaga Eijkman di Jakarta), bisa bekerja juga di kementerian kesehatan, perusahaan multinasional, dan juga bisa jadi post-doc (digaji). Kak Indy sendiri berencana kembali ke Indonesia. Selain karena kontrak beasiswa, Kak Indy juga bercita-cita memperkuat scientific network antara Indonesia dan luar negeri, agar tidak tertinggal dari negara-negara tetangganya.
Nah terakhir, ada pesan nih dari Kak Indy buat temen-temen yang mau ambil kuliah di luar negeri. Intinya hanya satu, yaitu mau bekerja keras. “Orang Indonesia itu punya daya saing yang sama dengan orang-orang di luar negeri. Saya udah lihat sendiri temen-temen Indonesia yang sukses di luar negeri kuncinya hanya satu, yaitu kerja keras!”
Kak Indy percaya, bahwa effort merupakan hal yang bisa membuat siapapun bisa menaklukkan dunia. “Pergilah ke luar negeri, buka mata, buka hati. Dunia ini nggak seperti apa yang biasa kita lihat di Indonesia, it’s more than that! Jangan berpikiran sempit bahwa dokter sukses hanya yang berprofesi tertentu. Dokter apapun bisa sukses, and you can be whatever doctor you want!”
CIMSA
Empowering Medical Students
Improving Nation’s Health
